Search this website

Close me
Publikasi / Artikel

Akusisi Sebagian Saham PT. Kertas Padalarang

Perum Percetakan Uang Republik Indonesia (Peruri) akhirnya menambah kepemilikan sahamnya pada PT Kertas Padalarang setelah merampungkan akuisisi 7,74 persen saham Pemerintah pada produsen kertas tersebut.

"Akuisisi 7,74 persen saham Padalarang sudah dituntaskan pada akhir November 2012," kata Deputi Bidang Restrukturisasi dan Perencanaan Strategis Kementerian BUMN, Pandu Djajanto, di Jakarta, Jumat.

Menurut Pandu, dengan akuisisi tersebut maka Peruri menjadi mayoritas di Padalarang dengan menguasai saham sebesar 91,19 persen. Sedangkan sisa saham Padalarang sebesar 8,72 persen dikuasai PT Pengelola Investama Mandiri (PIM).

Setelah menjadi pemegang saham mayoritas Kertas Padalarang, Peruri akan mendorong perusahaan itu untuk menjadi produsen "security paper mill"

Meski begitu, ia tidak merinci lebih lanjut nilai akuisisi saham pemerintah sebesar 7,74 persen yang dimaksud.

Pandu hanya menjelaskan bahwa penyelesaian akuisisi tersebut merupakan bagian dari program Right Sizing (pemangkasan jumlah) BUMN melalui pola privatisasi yang dilakukan di sejumlah BUMN.

Pandu menjelaskan, tiga BUMN lainnya yang saat ini dalam proses penyelesaian privatisasi adalah PT Primissima yang akan diambilalih Gabungan Koperasi Batik Indonesia (GKBI), dan PT Sarana Karya yang akan dikuasai PT Wijaya Karya (WIKA), dan PT Rukindo akan dialihkan ke PT Pelindo.

Saham pemerintah sekitar 52,79 persen yang terdapat pada Primisissima akan dialihkan kepada GKBI, sedangkan saham pemerintah pada Sarana Karya sebesar 100 persen diambilalih WIKA.

Primissima produsen tekstil dan pemintalan ini mengalami keterlambatan produksi, pemasaran dan ekspor yang terus menurun, serta adanya persaingan dari negara tetangga yang berpengaruh terhadap permintaan pasar.

Bahkan, marjin yang negatif karena perusahaan mengalami kerugian pada periode 2006-2009.

Sedangkan Sarana Karya dalam lima tahun terakhir memiliki ekuitas negatif serta mengalami kerugian sehingga sulit untuk mendapatkan pendanaan.

"Ke tiga BUMN tersebut terus melakukan valuasi terhadap nilai akuisisi perusahaan. Diharapkan pada tahun 2013 akuisisi tersebut dapat difinalisasi," kata Pandu.


PT. Kertas Padalarang Bangkit

VIVAnews- Salah satu BUMN duafa, PT Kertas Padalarang terus bangkit dari keterpurukan sejak mengalami penurunan produksi tahun 2000. Pabrik kertas tertua di Indonesia milik BUMN, itu masih bergantung dengan mesin buatan 1922.

Direktur Utama Kertas Padalarang, Atje M.Daryan menjelaskan sejak berdiri pada 1922, PT KP mengoperasikan tiga mesin pembuat kertas. Mesin pertama sejak tahun 1922 masih beroperasi hingga saat ini, mesin kedua buatan tahun 1933 dan mesin ketiga tahun 1973,
"Jadi mesin-mesin milik kami sudah cukup lama," kata Atje dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi XI DPR-RI, Kamis 4 Oktober 2012.

Ia menjelaskan uniknya mesin pertama buatan 1922 itulah yang menjadi penyumbang pendapatan bagi PTKP karena mesin pertama dapat menghasilkan produk security paper seperti pita bea cukai dan kertas-kertas yang digunakan untuk industri perbankan.

Di Indonesia, lanjutnya, hanya dua pabrik kertas yang memiliki lisensi untuk membuat security paper, yaitu Kertas Padalarang dan perusahaan swasta, Pura Barutama Group yang terletak di Jawa Tengah. Atas dasar itulah, Kementerian BUMN meminta PTKP untuk tetap bisa eksis dan disehatkan karena posisinya yang stretegis.

"Karena kalau dilikuidasi maka hanya ada satu pembuat security paper di Indonesia," katanya.

Atje menjelaskan saat menjadi Dirut PTKP pada 2009, ia mencoba memperbaiki Kertas Padalarang dengan meningkatkan kapasitas mesin dari 15-20 persen pada 2009 lalu. Hasilnya, mesin pertama berhasil dioptimalkan hingga 90 persen dan mesin-mesin lain rata-rata 80-85 persen dari total kapasitas.

Perbaikan kapasitas mesin itu membuat Kertas Padalarang mulai dilirik. Kontrak pembuatan pita Bea Cukai pun didapat selama  dua tahun ke depan. Kinerja PTKP perlahan mulai membaik dan pada akhirnya mencetak laba pada 2011 lalu setelah sebelumnya mengalami kerugian paling rendah dialami pada 2009 lalu yang mencetak rugi sekitar Rp36 miliar.

"Pada 2010 rugi kami Rp13 miliar dan pada 2011 sisi poisitif walaupun tidak seberapa," katanya. (sj)